Senin, 23 Juli 2018

PERSYARATAN KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM Oleh: H. Fachruddin, SE., (materi khutbah jum'at masjid PTIK, tanggal 27-04-2018)


PERSYARATAN KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM
(materi khutbah Jumat di Masjid Daarul Ilmi STIK)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul (Nya) dan ulil amri minkum. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al Qur an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS An Nisa:59).
Hadirin yang berbahagia;
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak mungkin dapat hidup seorang diri. Kebutuhan hidupnya yang beraneka ragam akan menuntutnya untuk senantiasa berinteraksi dengan manusia lain. Perbedaan pendapat, ambisi dan kepentingan masing-masing pihak yang muncul dalam proses interaksi tersebut tidak menutup kemungkinan akan memicu lahirnya konflik, pertikaian, penindasan, peperangan dan pembunuhan atau pertumpahan darah, yang pada gilirannya nanti bisa berimplikasi pada kehancuran total dalam berbagai dimensi kehidupan umat manusia itu sendiri.
Untuk dapat menghindari kemungkinan terjadinya hal yang serupa itu dan agar kehidupan dalam masyarakat dapat berjalan dengan baik, tertib, aman, damai dan teratur, maka perlu dipilih seorang pemimpin yang akan memandu rakyat menggapai segala manfaat  sekaligus menghindarkan mereka dari berbagai mafsadat (kerusakan). Baik sebagai pemimpin negara maupun pemimpin masyarakat.

Hadirin rohimakumullah;
Begitu mulia dan beratnya tanggung jawab seorang pemimpin dalam memandu kehidupan masyarakat, maka di dalam Islam menjadi seorang pemimpin baik pemimpin negara maupun pemimpin masyarakat memerlukan persyaratan yang komplit baik dalam kaitan dengan Allah maupun kapasitasnya sebagai personal dalam memimpin dengan kegiatan interaksi sesama manusia, maka dia harus memiki kemampuan spiritualitas serta dapat memahami kaidah-kaidah yang Allah tetapkan karena fungsinya sebagai “khalifah fil ardhi” yang bisa mensejahterakan rakyat atau masyarakatnya lahir bathin.

Untuk menjadi  seorang pemimpin yang baik... tidak ada jalan terbaik selain mengikuti akhlaq dan sunah Rosulullah yang diaplikasi dengan sifat-sifatnya, siddiq, amanah, fatonah dan tabligh, sehingga mampu menjalankan perannya baik sebagai pemimpin rumah tangga, pemimpin masyarakat maupun pemimpin umat yang dengan risalah-Nya mampu merubah wajah dunia “mina zulumati ilaa nur” dalam tempo yang tidak terlalu lama, 23 tahun.

Ma’asyirol Muslimin rohimakumullah;
Akhirnya, kita sebagai masyarakat yang menjadi obyek kepemimpinan, tentunya dalam memilih pemimpin hendaknya mampu menelaah kapasitas orang yang akan kita jadikan pemimpin... apakah mereka mampu dan memiliki kapasitas serta memenuhi persyaratan kepemimpinan dalam Islam.
Paling tidak ada beberapa hal yang menjadi perhatian kita, apakah mereka yang akan kita jadikan pemimpin memiliki kedekatan dengan Allah, yang menunjukan ketaatannya kepada Allah dalam kehidupannya sehari-hari. Sebab pemimpin yang jauh dari Allah tidak akan mampu berlaku jujur dan adil dalam kepemimpinannya. Selain itu yang harus menjadi perhatian kita adalah masalah keilmuan dari calon seorang pemimpin... sebab dengan luasnya ilmu yang dimilikinya dia akan mampu berijtihad terhadap kasus-kasus dan hukum-hukum. Dan dengan keluasan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dia dapat mengetahui produk undang-undang yang dilahirkan sesuai atau tidak dengan syariat dan peraturan-peraturan lainnya. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah yang menyangkut kesehatan lahir batin seorang pemimpin, yang dengan itu dia mampu menangani langsung permasalahan yang telah diketahuinya...
Semoga Allah swt memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat memilih pemimpin yang mendapatkan keridhoan-Nya. Dan semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya melalui pemimpin yang amanah dan mampu mengantarkan kita kepada kesejahteraan lahir batin menuju masyarakat “baldatun toyyibatu wa robbun goffur”..
Barokallahu lii wa lakum.....


------------------


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daarul Ilmi 2015