PERSYARATAN
KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM
(materi khutbah Jumat di Masjid Daarul Ilmi STIK)
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rosul (Nya) dan ulil amri minkum. Kemudian jika kamu berlainan
pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al Qur an) dan
Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS An Nisa:59).
Hadirin yang berbahagia;
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak
mungkin dapat hidup seorang diri. Kebutuhan hidupnya yang beraneka ragam akan
menuntutnya untuk senantiasa berinteraksi dengan manusia lain. Perbedaan
pendapat, ambisi dan kepentingan masing-masing pihak yang muncul dalam proses
interaksi tersebut tidak menutup kemungkinan akan memicu lahirnya konflik,
pertikaian, penindasan, peperangan dan pembunuhan atau pertumpahan darah, yang
pada gilirannya nanti bisa berimplikasi pada kehancuran total dalam berbagai
dimensi kehidupan umat manusia itu sendiri.
Untuk dapat menghindari kemungkinan
terjadinya hal yang serupa itu dan agar kehidupan dalam masyarakat dapat
berjalan dengan baik, tertib, aman, damai dan teratur, maka perlu dipilih
seorang pemimpin yang akan memandu rakyat menggapai segala manfaat sekaligus menghindarkan mereka dari berbagai
mafsadat (kerusakan). Baik sebagai pemimpin negara maupun pemimpin masyarakat.
Hadirin rohimakumullah;
Begitu mulia dan beratnya tanggung jawab
seorang pemimpin dalam memandu kehidupan masyarakat, maka di dalam Islam
menjadi seorang pemimpin baik pemimpin negara maupun pemimpin masyarakat
memerlukan persyaratan yang komplit baik dalam kaitan dengan Allah maupun
kapasitasnya sebagai personal dalam memimpin dengan kegiatan interaksi sesama
manusia, maka dia harus memiki kemampuan spiritualitas serta dapat memahami
kaidah-kaidah yang Allah tetapkan karena fungsinya sebagai “khalifah fil ardhi”
yang bisa mensejahterakan rakyat atau masyarakatnya lahir bathin.
Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik... tidak ada jalan
terbaik selain mengikuti akhlaq dan sunah Rosulullah yang diaplikasi dengan
sifat-sifatnya, siddiq, amanah, fatonah dan tabligh, sehingga mampu menjalankan
perannya baik sebagai pemimpin rumah tangga, pemimpin masyarakat maupun
pemimpin umat yang dengan risalah-Nya mampu merubah wajah dunia “mina zulumati
ilaa nur” dalam tempo yang tidak terlalu lama, 23 tahun.
Ma’asyirol Muslimin rohimakumullah;
Akhirnya, kita sebagai masyarakat yang
menjadi obyek kepemimpinan, tentunya dalam memilih pemimpin hendaknya mampu
menelaah kapasitas orang yang akan kita jadikan pemimpin... apakah mereka mampu
dan memiliki kapasitas serta memenuhi persyaratan kepemimpinan dalam Islam.
Paling tidak ada beberapa hal yang
menjadi perhatian kita, apakah mereka yang akan kita jadikan pemimpin memiliki
kedekatan dengan Allah, yang menunjukan ketaatannya kepada Allah dalam kehidupannya
sehari-hari. Sebab pemimpin yang jauh dari Allah tidak akan mampu berlaku jujur
dan adil dalam kepemimpinannya. Selain itu yang harus menjadi perhatian kita
adalah masalah keilmuan dari calon seorang pemimpin... sebab dengan luasnya
ilmu yang dimilikinya dia akan mampu berijtihad terhadap kasus-kasus dan
hukum-hukum. Dan dengan keluasan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dia dapat
mengetahui produk undang-undang yang dilahirkan sesuai atau tidak dengan
syariat dan peraturan-peraturan lainnya. Hal lain yang tidak kalah pentingnya
adalah yang menyangkut kesehatan lahir batin seorang pemimpin, yang dengan itu
dia mampu menangani langsung permasalahan yang telah diketahuinya...
Semoga Allah swt memberikan kekuatan
kepada kita untuk dapat memilih pemimpin yang mendapatkan keridhoan-Nya. Dan
semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya melalui pemimpin yang amanah dan mampu
mengantarkan kita kepada kesejahteraan lahir batin menuju masyarakat “baldatun
toyyibatu wa robbun goffur”..
Barokallahu lii wa lakum.....
------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar