عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Dari Abu
Hurairah, bersabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Siapa yang
beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah menyakiti
tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka
muliakanlah tamunya. Dan siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,
maka berbicaralah yang baik atau diamlah” (HR Bukhari, Muslim, dan
Ahmad)
Arti bicara antara lain pertimbangan pikiran atau pendapat.
Padan kata berbicara adalah berkata, bercakap, berbahasa. Bicara
dilakukan dengan menggunakan bahasa. Bahasa merupakan salah satu dasar
hakiki intelegensia manusia dan merupakan bagian penting dari kebudayaan
manusia. Berbicara merupakan cara mengkomunikasikan apa yang ada dalam
pikiran seseorang kepada orang lain dan menggambarkan apa yang ada dalam
pikiran seseorang.
Pusat bicara terletak di Area Broca, sebuah area
yang terletak di otak bagian depan (lobus frontalis). Area Broca ini
mengolah informasi yang datang dari Area Wernicke (suatu area di otak
yang berperan dalam pemahaman informasi penglihatan dan pendengaran)
menjadi pola yang terinci dan terkoordinasi untuk vokalisasi, lalu
memproyeksikan pola tersebut melalui area pengucapan kata ke korteks
motorik (suatu area yang juga terletak di otak) yang mencetuskan gerakan
bibir, lidah, kerongkongan yang tepat untuk menghasilkan suara.
Kualitas bicara seseorang sangat bergantung kepada: (1) memory
(ingatan), (2) bagaimana ia belajar, dan (3) apa yang dipelajari.
Belajar merupakan proses mendapatkan informasi yang memungkinkan suatu
hal terjadi. Mengingat adalah mempertahankan dan menyimpan informasi
tersebut.
Dari segi fisiologi, memory dibagi menjadi bentuk
tersurat dan tersirat. Memori tersurat berhubungan dengan kesadaran
sehingga sering disebut sebagai otak sadar. Memori ini terdiri atas: (1)
ingatan akan peristiwa (episodic memory), dan (2) ingatan akan
kata-kata, peraturan-peraturan, bahasa, dan lain-lain (semantic memory).
Memori tersirat tidak berhubungan dengan kesadaran, disebut juga memori
refleksif atau otak bawah sadar. Termasuk di sini adalah kemahiran
melakukan sesuatu dan kebiasaan.
Kemahiran melakukan sesuatu dan
kebiasaan seseorang, pada awalnya berada dalam memori tersurat. Kegiatan
mengendarai sepeda motor misalnya, pada awal belajar dilakukan oleh
memori tersurat, dan akan menjadi memori tersirat bila telah cukup
mahir. Kegiatan seseorang melakukan shalat tahajud secara tidak rutin,
dilakukan oleh memori tersurat (otak sadar), dan menjadi memori tersirat
bila telah menjadi kebiasaan setiap malam. Kemahiran dan kebiasaan
biasanya sekali didapat akan menjadi tidak disadari dan otomatis.
Proses pemindahan dari memori tersurat (otak sadar) ke dalam memori
tersirat untuk amalan-amalan yang baik memerlukan perjuangan berat dalam
waktu cukup panjang. Ada ahli yang menyatakan, amalan tersebut harus
dilakukan pengulangan sekurang-kurangnya 90 hari berturut-turut.
Membangun kebiasaan baik ibarat orang mendorong mobil di tempat datar.
Berat pada awalnya, tetapi bila telah mencapai kecepatan tertentu yang
diharapkan, lebih sulit menghentikannya dibandingkan menjaga
kecepatannya. Begitulah karakter kebiasaan, lebih mudah mempertahankan
dibandingkan menghentikannya.
Orang yang memiliki
kebiasaan-kebiasaan baik, ia akan menjadi orang baik. Kebiasaan belajar,
membuat orang pintar. Kebiasaan memberi menjadikannya dermawan.
Kebiasaan selalu bicara baik, menjadikannya orang terpercaya.
Sebaliknya, kebiasaan-kebiasaan tidak baik, akan menjadikan seseorang
menjadi tidak baik. Kebiasaan malas belajar, menjadikannya tetap bodoh.
Kebiasaan sulit memberi, menjadikannya orang pelit. Kebiasaan berbohong,
menjadikannya pendusta dan tidak disukai orang. Pendeknya, kita akan
menjadi apa bergantung dari kebiasaan-kebiasaan yang kita bangun. Pada
awalnya kitalah yang membangun kebiasaan, tetapi selanjutnya
kebiasaanlah yang akan membentuk kita.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا
تُطِيقُونَ فَإِنَّ خَيْرَ الْعَمَلِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ
Rasulullah SAW bersabda:
“Laksanakanlah oleh kalian amalan semampu kalian, sesungguhnya
sebaik-baik amalan adalah yang dikerjakan terus menerus (menjadi
kebiasaan) meskipun sedikit” (HR Ibnu Majah)
Secara tersirat,
hadits di atas memotivasi kita untuk membangun kebiasaan sedikit demi
sedikit. Dalam hal berbicara, Allah memberikan apresiasi yang sangat
tinggi kepada orang-orang yang mampu berbicara baik tanpa dipikir
panjang lagi, sebagaimana terseut dalam Hadits:
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ
الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رُضْوَانِ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ
وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا
يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
Dari Abi Hurairah,
bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya
seorang hamba yang berbicara dengan kata-kata yang diridhai Allah ’Azza
wa Jalla tanpa berpikir panjang, Allah akan mengangkatnya beberapa
derajat dengan kata-katanya itu. Dan seorang hamba yang berbicara dengan
kata-kata yang dimurkai Allah tanpa berpikir panjang, Allah akan
menjerumuskannya ke neraka Jahannam dengan kata-katanya itu”.(HR
Bukhari, Ahmad, dan Malik)
Orang disebut baik kalau
kebiasaan-kebiasaannya baik, termasuk di dalam berbicara. Kebiasaannya
berbicara baik sudah masuk ke dalam memori tersirat (otak bawah sadar),
sehingga tanpa dipikir-pikir panjangpun, yang keluar dari lisannya
selalu baik. Keadaan ini merupakan hasil proses pembinaan diri jangka
panjang. Allah sangat menghargai perjuangan seseorang membiasaan
berbicara baik –yang tentunya diridhai-Nya - dengan senantiasa
meningkatkan derajatnya.
Sebaliknya, orang yang memiliki kebiasaan
berbicara buruk, misalnya suka mencaci, mencela, mengutuk, berghibah,
membicarakan aib sahabatnya, dan berkata-kata kotor –kata-kata yang
membuat murka Allah- ia telah melakukannya dengan kendali otak bawah
sadar. Keadaan seperti ini terjadi karena ia tidak berusaha
menghentikannya dan selalu saja membiarkan keluar dari lisannya. Orang
ini telah mengabaikan perintah Allah dan Rasul-Nya untuk berbicara baik.
Pengabaian yang berulang-ulang hingga membentuk kebiasaan pada
hakekatnya adalah bentuk keingkaran yang telah terbiasa dilakukannya.
Oleh karena itu, Allah menjerumuskan ke neraka Jahanam dikarenakan
kebiasaan ingkarnya tersebut.
Apa yang dipelajari oleh seseorang
melalui penglihatan dan pendengarannya, membentuk tata nilai yang ia
yakini. Tatanilai tersebut membentuk prosedur baku dalam otak yang
berfungsi sebagai processor atas segala masukan informasi penglihatan,
pendengaran, dan perasaan hatinya. Keluaran dari processor tersebut
berupa kata-kata yang diucapkan, ekspresi wajah, sikap, dan tindakan.
Apabila seseorang banyak melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang
negatif, maka yang masuk dalam memorinya adalah hal-hal negatif,
tatanilai yang terbentuk dan diyakininya juga menjadi negatif. Akibatnya
ia akan mudah bicara dan bertindak negatif. Hendaknya tidak membiarkan
diri dan keluarga kita melihat dan mendengar hal-hal yang negatif secara
langsung maupun melalui media seperti tv, radio, dunia maya, media
cetak dan sebagainya.
Sebaliknya, apabila seseorang banyak belajar
dengan melihat, mendengar, dan merasakan hal-hal positif, tatanilai yang
terbentuk dan diyakininya positif. Selanjutnya ia akan mudah berbicara
dan bertindak positif. Hendaknya kita membiasakan diri dan keluarga kita
melihat, mendengar, dan merasakan hal-hal yang positif.
Bila di
hadapan anda disajikan 2 jenis makanan, yang satu berasal dari rumah
makan yang terkenal sehat, bersih dan lezat masakannya, sementara
lainnya berasal dari makanan sisa dari tempat sampah, manakah yang akan
anda pilih? Orang yang sehat akalnya pasti memilih yang pertama. Ia tahu
konsekuensinya makan makanan sisa dari tempat sampah dapat membuat
badannya sakit. Sayangnya, banyak yang memberikan makanan kepada otaknya
berupa informasi-informasi sampah melalui penglihatan, pendengaran, dan
perasaan hatinya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kamu
mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai
pertanggungjawabannya” (QS Al Isra: 36)
Sebagaimana tersebut dalam
Hadits yang dikutip pada awal tulisan ini, Rasulullah mempersyaratkan
bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk menjaga
lisannya agar ketika megeluarkan kata-kata hanya kata-kata yang baik.
Apabila ada dorongan dari dalam dirinya untuk mengeluarkan kata-kata
yang tidak baik karena sesuatu hal, misalnya sedang marah, dikecewakan
orang, didzalimi orang, atau sebab-sebab lainnya, ia harus menyimpannya
dalam hati dengan diam, meskipun untuk itu ia harus berjuang keras. Itu
semua bisa terjadi karena tatanilai yang tertanam dalam memorinya
melarangnya berkata-kata yang tidak baik dan hanya membolehkan berbicara
yang baik.
Dengan mengetahui bagaimana proses seseorang memiliki
kebiasaan berbicara, kita jadi lebih mudah memahami konteks Hadits
Rasulullah, bahwa orang yang beriman hanya akan bicara baik atau diam.
Rasulullah mengajarkan kita untuk menjaga mulut, organ yang berfungsi mengkomunikasikan apa-apa yang ada dalam pikiran kita.
قَالَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَوَكَّلَ
لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ تَوَكَّلْتُ لَهُ
بِالْجَنَّةِ
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang dapat menjamin untukku lisan dan kemaluannya, aku akan menjamin surga untuknya” (HR Ahmad)
engan mengatur bagaimana seharusnya kita berbicara, secara tidak
langsung kita membangun tatanilai yang kita yakini, dan mengatur masukan
informasi apa yang kita berikan ke otak agar berfungsi positif.
Bagaimana bicara baik, dan bicara yang bagaimana yang harus kita hindari sehingga harus diam?
Berbicara baik menurut Rasulullah Muhammad SAW adalah yang:
· Diiringi dengan senyum
· Banyak disertai Kalimah Thayyibah
· Seperlunya
· Mendahulukan yang lebih tua
· Perlahan-lahan
· Merendahkan suara
Yang harus kita hindari adalah:
· berbohong
· Banyak bicara
· Ghibah dan namimah
· Menceritakan apa saja yang didengar
· Berkata-kata kotor
· Suka berdebat
· Membuat pendengar tertawa dengan sesuatu yang dusta
· Membuka aib saudara
· Membuka rahasia yang anda diminta merahasiakan
· Suka memotong pembicaraan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar